Anak 7 Tahun Membantu Ayahnya Memulung Karena Ayahnya di PHK

Reporter: Redaksi
Media Berantas Kriminal

MEDIABERANTASKRIMINAL.COM, MEDAN | “Aku pengen bantu-bantu ayah. Biar aku tetap bisa sekolah. Aku mau jadi tentara, Om,” kata Pandi (7 tahun) saat ditemui di kontrakan ayahnya, di Jalan Seto, Gang Edi Busono, Kelurahan Tegal Sari 2, Kecamatan Medan Area, Medan, Senin (21/09/2020).

Sore itu, Pandi ditemui usai memulung setengah hari. Namun ia masih tetap tampak ceria. Sejurus kemudian, ia menghambur ke pelukan ibunya. Dua adiknya ikutan memeluk ibunya yang sedang berbadan dua.

Selama masa pandemi Covid-19, Pandi, bocah tujuh tahun ikut memulung bersama ayahnya, Afrizal Tanjung (32). Mereka mengutip barang-barang bekas seperti plastik, kardus dan botol minuman yang berseliweran di jalan-jalan protokol di wilayah Medan Area.

Pasalnya, selama pandemi berlangsung dari Februari 2020 hingga hari ini, keluarga ini sama sekali tidak pernah mendapatkan bantuan apapun. Padahal keluarga ini sangat layak dibantu. Pandi sendiri, atas kemauannya, ia menemani ayahnya memulung. “Aku senang bisa bantu ayah, Om,” kata dia.

Meski tiap hari memulung, Pandi tetap menyempatkan diri belajar. Setiap pukul tujuh hingga pukul 9 pagi, ia belajar menuntaskan pelajarannya di rumah. Setelah itu, hingga malam hari, ia pergi memulung bersama ayahnya. Ia mengatakan, ingin bisa terus bersekolah.

Mengenai keterlibatan anaknya memulung di jalanan, Afrizal mengatakan, dia sama sekali tidak mengeksploitasi anaknya. Hanya saja, dia tidak tega melihat anaknya merengek bahkan menangis jika dilarang ikut. “Sebenarnya, aku nggak tega memarahinya terus menerus, Bang. Sering dia kularang bahkan kubentak, tapi ngotot dia harus ikut. Sampai nangis-nangis dia, katanya, mau bantu ayah. Terpaksa kubawa,” terang Afrizal.

Sejak lebaran Idulfitri 2020 lalu, Afrizal menjadi pengangguran karena usaha pembuatan sepatu tempat dia bekerja telah gulung tikar. Terpaksa para karyawan, termasuk Afrizal harus dipecat. “Saya dulu kerja membuat sepatu dan sandal di Jalan Bromo. Tapi dah tutup karena bangkrut,” tuturnya.

Sejak dipecat dari pabrik sepatu, Afrizal berusaha mencari pekerjaan lain, mulai dari menjahit pakaian, depot air minum, buruh bangunan, sampai memulung. Ia mengerjakan pekerjaan apa saja demi menafkahi tiga anak dan seorang istri. Ia juga harus mempersiapkan biaya untuk pendidikan anaknya Pandi yang telah masuk sekolah dasar.

Sementara istrinya, Sri Veranita Piliang (29) saat ini sedang mengandung bayi mereka yang keempat. Tak lama lagi, istrinya akan melahirkan. “Belum lagi kontrakan rumah kami sudah mau habis batas waktunya. Butuh biaya untuk memperpanjang kontrakan. Sementara istriku mau melahirkan. Anak-anakku pun masih balita,” imbuh Afrizal.

Persoalan kemiskinan yang membelit keluarga ini membawa dampak lain. Sri Veranita bercerita, ketika ia hendak mengurus agar tiga anaknya yakni Pandi (7), Dika (5) dan Nanda (2) agar dimasukkan ke dalam daftar kartu keluarga, petugas kelurahan meminta uang Rp 350.000. Lantaran tidak punya uang, Veranita mengurungkan niatnya mengurus identitas anak-anaknya itu. “Orang kantor lurah minta Rp 350.000 untuk memasukkan dua nama anakku ke Kartu Keluarga. Karena enggak punya uang, kubilang, nantilah dulu,” ucap Veranita.

Veranita bukanlah perempuan sembarang. Ia terbiasa bekerja mencari duit sejak masih anak gadis. Ia bekerja kepada pengusaha sarang walet di daerah Medan Estate. Meskipun bekerja setiap hari, tapi urusan rumah tangga tak pernah ia lalaikan. “Saya kerja dari pagi sampai sore. Seminggu cuma dapat 300 ribuan. Cuma ya mencukupkan dirilah,” timpalnya.

Pasutri Afrizal-Veranita menyadari, anak-anak mereka kekurangan nutrisi bergizi. Tetapi mereka tidak berdaya mengubah keadaan. Persoalan ekonomi keluarga mereka sedang sulit-sulitnya. Meskipun pasutri ini telah bekerja keras setiap harinya. “Ya memang kuranglah gizi anak-anakku ini, Bang,” ungkap ayah tiga anak itu.

Kisah Pandi, bocah tujuh tahun yang ikut ayahnya memulung di Medan, viral di media sosial. Beberapa hari sejak video itu tersebar luas di jejaring media sosial, utamanya Facebook, mendadak rumah kontrakan Afrizal rama didatangi berbagai pihak, mulai dari aparat pihak kecamatan, anggota wakil rakyat, perwakilan dari lembaga perlindungan anak hingga aktivis sosial. “Tadi sudah datang dari pihak Camat. Katanya mau mereka uruskan identitas anak kami, termasuk akte lahirnya,” jelas Afrizal.

Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera Uba Pasaribu mengatakan, kemiskinan dan birokrasi pengurusan identitas kependudukan di Kota Medan ibarat sekeping mata uang. Kedua sisi saling terkait. Lantaran tidak memiliki identitas, banyak warga miskin sulit mengakses program pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan, Kartu Indonesia Pintar maupun kepesertaan BPJS Kesehatan.

“Celakanya, pengurusan identitas kependudukan sering kali bermasalah. Pungli masih marak. Itu yang terus kita teriakkan, tetapi Pemko Medan menebalkan telinga untuk kritik. Sehingga anak-anak seperti Pandi yang harusnya menikmati masa kecilnya dengan bermain, harus dihabiskan dengan memulung di jalanan,” tegas Uba.

Perwakilan dari Lembaga Perlindungan Anak Sumut Jhoni Harahap (47) menambahkan, seharusnya pemerintah di tingkat bawah seperti, kepling, lurah maupun camat proaktif, mendata warganya dan membantu menyiapkan identitas warganya. Agar masyarakat, khususnya kaum marjinal bisa mendapatkan hak identitasnya serta mengakses bantuan dari negara. Sekalipun orangtuanya miskin, tetapi negara bisa mengkover kebutuhan anak.

“Pernyataan pihak lurah yang minta duit 350 ribu itu sangat salah. Harus dibantum keluarga ini. Mereka ini sangat miskin. Bantulah bikin kartu keluarganya, akte lahir anaknya bahkan bagaimana mendapatkan BPJS Kesehatan. Karena mendapatkan identitas adalah hak setiap warga negara,” tandas Jhoni. (Redaksi)

21 views


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *