Siaran Pers
Diberikan Anugrah Piagam Pj Kepala Daerah Terburuk di Aceh
Banda Aceh – Media Berantas Kriminal | Sejumlah massa mengatasnamakan Dewan Pengurus Daerah Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Anti Korupsi (DPD–Alamp Aksi) Kota Banda Aceh melakukan unjuk rasa ke kantor Walikota Banda Aceh, Senin (07/11/2022).
Aksi yang digelar bertepatan dengan 4 bulan kepemimpinan Pj Walikota Banda Aceh itu meminta agar Mendagri mencopot Bakri Siddiq dari jabatannya. Kehadiran massa disambut oleh sekda Banda Aceh, asisten 1 setdako dan kepala dinas kopukmdag Banda Aceh.
Karena Pj Walikota tidak menyambut massa maka pihak pendemo mengatakan akan melakukan aksi lebih besar lagi nanti.
Dalam kesempatan itu, Ketua DPD Alamp Aksi Kota Banda Aceh, Mahmud Padang menyerahkan langsung piagam penghargaan kepada Bakri Siddiq sebagai Pj Kepala Daerah Terburuk di Aceh.


Berikut pernyataan sikap DPD Alamp Aksi Banda Aceh.
Pernyataan Sikap Aksi
DPD ALAMP AKSI KOTA BANDA ACEH
Setelah genap 4 (empat) Bulan Bakri Siddiq dimandatkan untuk memimpin kota Banda Aceh semakin semrawut dan tak terlihat sama sekali program nyata dari pemerintah untuk kemajuan justru yang ada hanyalah sebatas pencitraan, rapat, seremonial dan wacana khayalan serta bawa rombongan pemkot ramai-ramai jalan-jalan.
Ironisnya, program-program kerakyatan dan keagamaan seakan hanya sebatas dibibir saja tanpa realisasi nyata, sementara Pj Walikota Bakri Siddiq hanya fokus untuk memperhatikan ASN semata.
Kita bisa lihat sendiri, kesana kemari Pj Walikota hanya sebatas berfoto ria untuk pencitraan, tanpa ada realisasi bukti nyata di lapangan, bahkan sungguh aneh tapi nyata Bakri Siddiq mulai bicara seakan-akan sudah membawa anggaran jemputan dalam jumlah besar, padahal nyatanya DAK 2023 yang jadi bahan pencitraannya ternyata malah mengalami penurunan dari tahun 2022 mencapai 70 milyar rupiah dan menurun menjadi 47,9 Milyar Rupiah.
Belum lagi wacana khayalan yang disenandungkan diluar batas tupoksinya sebagai Pj Walikota. Bayangkan saja, Bakri Siddiq seakan-akan sudah mewacanakan program oto ringroad yang padahal perencanaannya sudah ada sejak masa kepemimpinan Almarhum Pak Mawardi dan tak mungkin dilaksanakan karena kebutuhan
anggarannya mencapai Rp 5 Triliun, ironisnya Bakri Siddiq melempar kembali seakan-akan sebagai wacana seakan-akan menunjukkan dirinya telah bekerja. Tak hanya sebatas itu, Bakri juga mulai berangan-angan melempar wacana penuntasan pembangunan jembatan Pango yang sempat dibangun oleh Gubernur Abu Doto, padahal sisi yang belum di bangun tersebut masuk di kawasan daerah kekuasaan Aceh Besar bukan Banda Aceh, dan semestinya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi, ditambah lagi anggaran yang dibutuhkan mencapai puluhan milyar rupiah, belum lagi persoalan lahan yang dulunya membuat pembangunan itu terhenti.
Sungguh Bakri Sidiq ditengah kegagalannya malah justru hanya bisa melempar wacana halusinasi, yang bahkan melebihi tupoksinya. Jangankan seorang Pj Walikota yang bahkan Pj Gubernur pun tak pernah menjanjikan hal yang sedemikian rupa, Apakah Bakri Siddiq tidak sadar bahwa yang dimandatkan kepadanya hanyalah jabatan Pj Walikota? Sungguh Bakri Siddiq terus hanyut dan terbuai dengan khayalannya lalu mencoba melempar wacana ilusi itu kepada masyarakat sementara tidak fokus dengan persoalan yang kini dihadapi oleh masyarakat.
Berdasarkan hasil pengamatan kami, kondisi memilukan yang dihadapi masyarakat Banda Aceh di bawah kepemimpinan Bakri Siddiq diantaranya :
1) Inflasi Banda Aceh semakin memprihatinkan bahkan sudah melebihi angka 5% dan telah melewati hal yang telah ditetapkan presiden. Berdasarkan data resmi BPS, inflasi di Bansa Aceh pada september 2022 kembali meningkat 0,78 % sehingga tingkat inflasi (januari-september) telah mencapai 5,73 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun(september 2022 terhadap agustus 2021) sudah mencapai 7,85 %. Tingginya inflasi ini membuat masyarakat kecil Banda Aceh semakin
menjerit dan kesusahan, sementara yang telah dilakukan pemko hanyalah sebatas rapat dan sekali pasar murah sebagai simbolis belaka, sungguh Bakri Siddiq telah abai dengan amanah mendagri dan peringatan presiden RI untuk fokus menekan laju inflasi.
2) Pelanggaran Syariat Islam di masa kepemimpinan Bakri Siddiq mulai menjamur, namun upaya yang dilakukan tak lebih dari sebatas himbauan, himbauan dan himbauan. Bahkan Bakri yang membangun citra sebagai orang yang taat beragama dengan pencitraan foto pasca shubuhnya bahwa dia adalah seorang Pj Walikota yang memiliki kekuasaan dan perangkat untuk menegakkan syariat islam sebagai mana mestinya. Namun apa hendak dikata, di bawah kepemimpinan Bakri Siddiq pula tercatat nyata 11 wanita yang berpesta ria di Ulee Lhe hingga pukul 3.00 wib yang telah diamankan warga malah justru dilepas begitu saja hanya karena negatif dari hasil tes urine yang dilakukan, padahal selain penegakan hukum positif ada hukum syariat yang merupakan kekhususan Aceh yang mesti ditegakkan, dan dipastikan di dalam aturan islam wanita berpesta ria hingga dini hari di tempat umum merupakan sebuah pelanggaran nyata. Lantas, kenapa Pemko Banda Aceh di bawah kepemimpinan Bakri Siddiq malah seakan tutup mata sehingga menyeret nama baik pemerintah pusat terutama mendagri dimata masyarakat Aceh, seolah-olah mendagri sebagai pemberi mandat kepada Pj Walikota sengaja mengobrak abrik kekhususan Aceh di bidang syariat islam. Padahal kita sangat yakin bahwa tak ada intruksi Mendagri untuk semua itu, bahkan mendagri sangat menghormati kekhususan Aceh di bidang syariat islam, dan dipastikan pengabaian persoalan pelanggaran syariat ini hanyalah sebatas Pj Walikota saja.
3) Pemangkasan Program keagamaan, sarana ibadah dan program kerakyatan di masa kepemimpinan Bakri Siddiq adalah pil pahit yang harus ditelan oleh masyarakat kota. Kendatipun Bakri Siddiq menyatakan tidak memangkas program keagamaan, sarana ibadah dan program kerakyatan lainnya pasca dilakukan rasionalisasi. Namun fakta dilapangan hingga memasuki bulan november semua itu juga tak kunjung dimulai, ini membuktikan bahwa Bakri Siddiq bukan hanya melukai hati masyarakat tapi juga telah melakukan pembohongan untuk menenangkan masyarakat. Berdasarkan catatan kami, program Kerakyatan dan Keagamaan yang Berkemungkinan gagal dilaksanakan dan berpotensi telah dipangkas anggarannya diantaranya pembangunan mesjid attaqwa Stui, pembangunan Dayah Nurun Nabi Lambhuk, Budidaya Ikan
Kakap Kelompok Tambak Bakau, bantuan Mukenah Bagi Masyarakat Kurang Mampu, antuan Alat Kerja Bagi Pedagang Ikan Al Mahirah dan masih banyak program keagaaman maupun program kerakyatan lainnya berpotensi tak terlaksana sehingga apa yang diharapkan masyarakat diabaikan begitu saja.
4) PAD Tak Maksimal Lebih 100 hari kepemimpinan Bakri Siddiq salah satu persoalan nyata yang terjadi adalah capaian Pendapatan Asli Daerah yang tidak dimaksimalkan, masih banyak lapak-lapak, toko-toko dan sumber PAD lainnya yang tidak dioptimalkan, bahkan persoalan PAD yang bersumber dari parkir juga sangat banyak yang masih belum maksimal menyumbang PAD. Pj Walikota Bakri Siddiq malah lebih fokus untuk mengutip dan menambah besaran pajak pamplet untuk usaha masyarakat untuk solusi PAD, sementara untuk toko-toko, lapak milik pemerintah masih banyak yang gak dikutip sewanya, bahkan diantaranya dikhabarkan disewa oleh keluarga dan kolega pejabat pemko juga dewan hingga ada yang menunggak ratusan juta namun kenapa hal itu malah tidak diperioritaskan. Sungguh Bakri Siddiq hanya terlihat ingin menambah kesulitan rakyat dan memberi kemudahan bagi para pihak yang berhubungan dekat dengan pejabat.
5) Di tengah kondisi yang katany kesulitan anggaran hingga pembangunan sarana ibadah banyak tidak realisasi, Pj Walikota Bakri Siddiq tercatat sudah 2 kali keluar daerah membawa rombongan pemko puluhan orang untuk kegiatan yang terkesan jalan-jalan. Pertama, ke Padang alasannya acara asosiasi pemerintah kota se Indonesia, selanjutnya baru-baru ini Pj Walikota Bakri Siddiq kembali membawa puluhan rombongan pemko untuk acara jaringan kota pusaka Indonesia di Palembang. Dengan kondisi banyaknya program kerakyatan dan keagamaan yang hingga saat ini, jelas-jelas Pj Walikota telah melakukan pemborosan anggaran di tengah kesulitan rakyatnya.



Melihat kondisi tersebut, kami menyatakan :
1) Kami mendesak agar Bakri Siddiq segera terbangun dari lamunannya, lebih fokus kepada persoalan rakyat ketimbang pencitraan semata.
2) Kami juga meminta pemerintah pusat dan mendagri untuk tegas dan segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Pj Walikota, jika memang mendagri terus mendengarkan laporan asal Bapak senang dan mengabaikan realita yang terjadi di masyarakat, dan membiarkan pihak yang tidak becus dan peduli memimpin kota Banda Aceh maka itu akan mencoreng citra pemerintah pusat di mata rakyatnya.
3) Apabila tidak segera dilakukan evaluasi oleh Mendagri, maka kami akan kembali melakukan aksi dan bahkan akan demontrasi langsung ke kemendagri.
Hidup Rakyat!!!
Copot Bakri Siddiq atau Mendagri Akan Terus Membiarkan Rakyat Menderita dan Citra Pemerintah pusat semakin tercoreng di mata rakyat.
Hidup Rakyat!!!
Ttd
DPD Alamp Aksi Kota Banda Aceh
Mahmud Padang
Repoter : Asmar Endi
Editor : Hery/Red



More Stories
Tujuh Hari Pencarian Korban Tenggelam Tidak Ditemukan, Keluarga Tabur Bunga
Kondisi Kabel TV Kabel dan Jaringan WiFi yang Semrawut dan Amburadul di Tiang PLN di Jalan Jenderal Sudirman Bagan Batu Kota Kecamatan Bagan Sinembah, Rokan Hilir, Riau
Bhabinkamtibmas Polsek Sosa Lakukan Pengamanan, Open Turnamen Sepakbola Cup 1 Pasar Ujung Batu