Ada Developer di Desa Cengkong, “Diduga Bangun Rumah di Atas Tanah PJT

Karawang | mediaberantaskriminal.com – Developer pembangunan perumahan di desa Cengkong Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang Jawa Barat, diduga bangun sejumlah unit rumah di atas tanah pengairan.Informasi tersebut terungkap dari sejumlah masyarakat di desa Cengkong.

Sejumlah warga mencurigai dan mengamati akan lokasi sejumlah bangunan perumahan tipe 22 tersebut telah memakan sebahagian sempadan sungai dan dikhawatirkan akan merugikan konsumen dan juga pihak pemerintah dalam hal ini pihak pengairan.

Untuk memastikan informasi tersebut, wartawan yang mencoba melakukan investigasi kelokasi, terpantau bahwa sejumlah unit perumahan yang baru dibangun dan sedang dipasarkan tersebut, percis berada di tepi saluran yang diduga milik pihak pengairan.

Kondisi bangunan hanya menyisahkan 1 meter dari saluran/irigasi, dan sedikitnya 7 meter badan bangunan berada di sempadan sungai atau milik pengairan.

Nana pengamat PJT Cikampek ketika di temuin dikantornya mengatakan, bahwa saluran yang ada di dalam lokasi perumahan Cengkong tersebut adalah sebagai saluran pembuang, terkait dugaan adanya sejumlah rumah yang dibangun dalam sempadan, pihaknya belum mengetahuinya,namun mengaku pihaknya akan melakukan kordinasi dulu dengan atasanya.

“Saya belum tahu soal adanya sejumlah rumah yang dibangun oleh pihak developer diatas sempadan sungai, namun kami akan melakukan kordinasi dulu dengan atasan, dan nanti bapak dari media saya kontek dan kita bersama-sama melakukan survei ke lokasi, jujur dalam hal ini saya belum bisa memberikan komentar panjang lebar, sebelum saya kordinasi dengan atasan saya,” jawab Nana.

Menurut peraturan menteri pekerjaan umum 63 tahun 1993 tentang garis sempadan sungai, daerah manfaat sungai, daerah penguasaan sungai dan bekas sungai l, pada pasal 8 Penetapan garis sempadan sungai tak bertanggul di dalam kawasan perkotaan didasarkan pada kriteria:

A. Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dan 3 (tiga) meter, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnva 10 (sepuluh) meter dihitung dari, tepi sungai pada waktu ditetapkan.

B. Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (duapuluh) meter, garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 15 (lima belas) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

C. Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 (dua puluh) meter, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 (tigapuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

Pasal 9

(1).Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah Tepi bahu jalan yang bersankutan, dengan kontruksi dan penggunaan jalan harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai.

(2).ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak terpenuhi, maka segala perbaikan atas kerusakan yang tirnbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalari.

Pasal 10
Penetapan garis sempadan danau, waduk, mata air, dan sungai yang terpengaruh pasang surut air laut mengikuti kriteria yang ditetapkan dalam Keputusan Presiden R.I. Nomor: 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, sebagai berikut:

A. Untuk danau dan waduk, garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 50 (lima puluh) meter dari titikpasang tertinggi kearah darat.
B. Untuk mata air, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter disekitar mata air.
C. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dan tepi sungai dan berfungsi sebagai jalur hijau.

Reporter: R.Octav.P.Hrj
Edisi: Hermanto

 

63 views


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *